VIDEO

VIDEO
Tampilkan postingan dengan label KAJIAN KITAB. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KAJIAN KITAB. Tampilkan semua postingan

Empat Musuh Terbesar Manusia


 

Dalam perjalanan spiritual manusia, ujian dan rintangan tidak hanya datang dari luar, tetapi juga bersembunyi di dalam diri kita sendiri. Para ulama sufi sering mengingatkan bahwa manusia selalu berada di medan pertempuran melawan empat musuh utama. Mengenali dan memahami cara kerja mereka adalah langkah pertama untuk meraih kedamaian jiwa yang sejati untuk menuju sang Ilahi.

Berikut adalah keempat musuh tersebut:

  • Dunia (Gemerlap Materi): Dunia sering kali menipu dengan keindahannya yang fana dan sementara. Harta, tahta, dan popularitas bisa membuat manusia buta akan tujuan akhir kehidupannya. Senjata utama dunia adalah menciptakan ilusi bahwa hidup dan kesenangan ini akan berlangsung selamanya. Cara melawannya: Mempraktikkan sikap zuhud—yakni boleh menggenggam dunia di tangan, namun tidak membiarkannya masuk dan menguasai hati.
  • Syaitan (Sang Penggoda): Ini adalah musuh eksternal yang telah bersumpah untuk menyesatkan manusia dari jalan kebenaran. Syaitan sering kali tidak datang dengan kejahatan yang terang-terangan; ia bekerja secara halus dengan membisikkan keraguan, memperindah kemaksiatan agar terlihat wajar, atau menakut-nakuti manusia dengan kemiskinan saat hendak berbuat baik. Cara melawannya: Memperkuat iman, memperbanyak zikir, dan selalu memohon perlindungan kepada Allah SWT.
  • Hawa (Kesenangan yang Melalaikan): Hawa merujuk pada kecenderungan hati terhadap kesenangan-kesenangan dangkal. Hawa membuat manusia mengabaikan logika dan tanggung jawab demi menuruti rasa malas, gaya hidup konsumtif, atau membuang-buang waktu untuk hal yang tidak bermanfaat. Cara melawannya: Menanamkan disiplin diri yang kuat dan memandu hati dengan akal sehat serta ilmu.
  • Nafsu (Ego di Dalam Diri): Nafsu sering dianggap sebagai musuh yang paling berbahaya karena ia bersemayam di dalam diri kita sendiri (nafsu ammarah bis-su' atau jiwa yang memerintahkan pada keburukan). Nafsu adalah sumber dari kesombongan, amarah, iri hati, dan keserakahan yang merusak hubungan dengan sesama manusia dan Tuhan. Cara melawannya: Melakukan introspeksi diri secara rutin dan mengendalikan dorongan fisik melalui latihan spiritual, seperti berpuasa.

Keempat musuh ini tidak bekerja sendiri-sendiri, melainkan saling berkaitan. Syaitan sering menggunakan gemerlap Dunia untuk memancing Hawa, yang pada akhirnya membangkitkan Nafsu buruk di dalam diri manusia. Namun, dengan kesadaran dan tekad yang kuat, manusia dibekali akal untuk bisa menundukkan mereka semua. Dan ingatlah, Ketika manusia bisa menundukan hawa nafsu tersebut manusia akan lebih mulia derajatnya daripada malaikat. Tapi jika manusia disetir dan digerakan oleh hawa nafsu maka manusia derajatnya akan lebih rendah daripada binatang.

MACAM-MACAM NAFSU



Syekh Muhammad Nawawi Al-Jawi membagi nafsu dalam 7 tingkatan yang dikenal dengan istilah “marotibun- nafsi”. Tempat-tempat dimana nafsu ini bersemayam dalam dunia sufi biasa dinamakan sebagai “lathifah”, yaitu sebuah titik halus dalam diri kita yang keberadaannya tersebar.
Berikut penjelasan beliau tentang nafsu, tempat dan tentara-tentaranya:

(1) Nafsu Ammaaroh
Nafsu ammaroh tempatnya adalah “ash-shodru” artinya dada. Adapun pasukan-pasukannya sebagai berikut :
1. Al-Bukhlu artinya kikir atau pelit
2. Al-Hirsh artinya tamak atau rakus
3. Al-Hasad artinya hasud
4. Al-Jahl artinya bodoh
5. Al-Kibr artinya sombong
6. Asy-Syahwat artinya keinginan duniawi

(2) Nafsu Lawwamah
Nafsu lawwamah tempatnya adalah “al-qolbu” artinya hati, tepatnya dua jari di bawah susu kiri. Adapun pasukan-pasukannya sebagai berikut :
1. Al-Laum artinya mencela
2. Al-Hawa artinya bersenang-senang
3. Al-Makr artinya menipu
4. Al-’Ujb artinya bangga diri
5. Al-Ghibah artinya mengumpat
6. Ar-Riya’ artinya pamer amal
7. Az-Zhulm artinya zalim
8. Al-Kidzb artinya dusta
9. Al-ghoflah artinya lupa

(3) Nafsu Mulhimah
Nafsu mulhimah tempatnya adalah “Ar-ruh” tepatnya dua jari di bawah susu kanan. Adapun pasukan-pasukannya sebagai berikut :
1. As-Sakhowah artinya murah hati
2. Al-Qona’ah artinya merasa cukup
3. Al-Hilm artinya murah hati
4. At-Tawadhu’ artinya rendah hati
5. At-Taubat artinya taubat atau kembali kepada Alloh
6. As-Shobr artinya sabar
7. At-Tahammul artinya bertanggung jawab

(4) Nafsu Muthmainnah
Nafsu muthmainnah tempatnya adalah “As-Sirr” artinya rahasia, tepatnya dua jari dari samping susu kiri kea rah dada. Adapun pasukan-pasukannya sebagai berikut :
1. Al-Juud artinya dermawan
2. At-Tawakkul artinya berserah diri
3. Al-Ibadah artinya ibadah
4. Asy-Syukr artinya syukur atau berterima kasih
5. Ar-Ridho artinya rido
6. Al-Khosyah artinya takut akan melanggar larangan

(5) Nafsu Rodhiyah
Nafsu rhodiyah tempatnya adalah “Sirr Assirr” artinya sangat rahasia, tepatnya di jantung yang berfungsi menggerakkan seluruh tubuh. Adapun pasukan-pasukannya sebagai berikut :
1. Al-Karom artinya
2. Az-Zuhd artinya zuhud atau meninggalkan keduniawian
3. Al-Ikhlas artinya ikhlas atau tanpa pamrih
4. Al-Waro’ artinya meninggalkan syubhat
5. Ar-Riyadhoh artinya latihan diri
6. Al-Wafa’ artinya tepat janji

(6) Nafsu Mardhiyah
Nafsu mardhiyah tempatnya adalah “Al-khofiy” artinya samar, tepatnya dua jari dari samping susu kanan ke tengah dada. Adapun pasukan-pasukannya sebagai berikut :
1. Husnul Khuluq artinya baik akhlak
2. Tarku maa siwalloh artinya meninggalkan selain Alloh
3. Al-Luthfu bil kholqi artinya lembut kepada makhluk
4. Hamluhum ‘ala sholah artinya mengurus makhluk pada kebaikan
5. Shofhu ‘an dzunubihim artinya mema’afkan kesalahan makhluk
6. Al-Mail ilaihim liikhrojihim min dzulumati thoba’ihim wa anfusihim ila anwari arwahihim artinya mencintai makhluk dan cenderung perhatian kepada mereka guna mengeluarkannya dari kegelapan (keburukan) watak dan jiwa-jiwanya ke arah bercahayanya ruh-ruh mereka.

(7) Nafsu Kamilah
Nafsu kamilah tempatnya adalah “Al-Akhfa” artinya sangat samar, tepatnya di tengah-tengah dada. Adapun pasukan-pasukannya sebagai berikut :
1. Ilmul-yaqiin
2. Ainul-yaqiin
3. Haqqul-yaqiin


Dan tidak ada jalan yang terbaik untuk membersihkan segenap nafsu ini selain dzikr. Oleh karena itu, para ulama thoriqoh mengajarkan metode dzikir terutama dzikir nafi itsbat (laa ilaaha illalloh) yang tekniknya mengatur aliran dzikir ke seluruh lathifah-lathifah.

Niat Shalat Jama' Qashar





NIAT QASHAR DAN JAMA’ TA’KHIR

1. نَوَيْتُ تَأْخِيْرَ الظُّهْرِ إِلَى الْعَصْرِ
Aku niat mengakhirkan shalat dhuhur ke dalam waktu ashar
2. نَوَيْتُ تَأْخِيْرَ الْمَغْرِبِ إِلَى الْعِشَاءِ
Aku niat mengakhirkan shalat magrib ke dalam waktu ashar
3. أُصَلِّي فَرْضَ الظُّهْرِ رَكْعَتَيْنِ مُؤَخَّرًا قَصْرًا لِلهِ تَعَالَى
Aku niat shalat fardlu dhuhur 2 raka’at yang diakhirkan yang dikurangi, karena Allah yang maha luhur
4. أُصَلِّى فَرْضَ الْعَصْرِ رَكْعَتَيْنِ قَصْرًا لِلهِ تَعَالَى
Aku niat shalat fardlu ashar 2 raka’at karena Allah yang maha luhur
5. أُصَلِّى فَرْضَ الْمَغْرِبِ ثَلاَثَ رَكَعَاتٍ مُؤَخَّرًا لِلهِ تَعَالَى
Aku niat shalat fardlu magrib 3 raka’at yang diakhirkan  karena Allah yang maha luhur
6. أُصَلِّى فَرْضَ الْعِشَاءِ رَكْعَتَيْنِ قَصْرًا لِلهِ تَعَالَى
Aku niat shalat fardlu ‘isya 2 raka’at yang dikurangi karena Allah
NIAT QASHAR DAN JAMA’ TAQDIM
1. أُصَلِّى فَرْضَ الظُّهْرِ رَكْعَتَيْنِ مَجْمُوْعًا مَعَ الْعَصْرِ قَصْرًا لِلهِ تَعَالَى
Aku niat shalat fardlu dhuhur 2 raka’at yang digabung dengan shalat ashar yang dikurangi, karena Allah yang maha luhur
2. أُصَلِّى فَرْضَ الْعَصْرِ رَكْعَتَيْنِ مُقَدَّمًا قَصْرًا لِلهِ تَعَالَى              
Aku niat shalat fardlu ashar 2 rakaat yang dimajukan yang dikurangi karena Allah
3. أُصَلِّى فَرْضَ الْمَغْرِبِ ثَلاَثَ رَكَعَاتٍ مَجْمُوْعًا مَعَ الْعِشَاءِ لِلهِ تَعَالَى
Aku niat shalat fardlu magrib 3 raka’at yang digabung dengan shalat isya’ yang dikurangi, karena Allah yang maha luhur
4. أُصَلِّى فَرْضَ الْعِشَاءِ رَكْعَتَيْنِ مُقَدَّمًا قَصْرًا لِلهِ تَعَالَى
Aku niat shalat fardlu isya’  2 rakaat yang dimajukan yang dikurangi karena Allah

Asmaul Husna


أسماء الحسنى

بِـسْـمِ اللهِ بَـدَأْنَـا
وَالْحَمْدُ لِرَبِّنَا
وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ
لِلنَّبِيِّ حَبِيْبِنَا
يَـا أَللهُ يَـارَبَّنَـا
أَنْتَ مَقْصُوْدُنَا
رِضَاكَ مَطْلُوْبُنَا
دُنْيَانَا وَأُخْرَانَا
يَارَحْمَنُ يَارَحِيْمُ
يَا مَلِكُ يَاقُدُّوْسُ
يَاسَلاَمُ يَا مُؤْمِنُ
يَامُهَيْمِنُ يَاعَزِيْزُ
يَاجَـبَّارُ مُتَـكَبِّرُ
يَاخَالِقُ يَابَارِئُ
يَا مُصَوِرُ يَاغَفَّارُ
يَاقَهَّارُ يَاوَهَّابُ
يَارَزَّاقُ يَافَـتَّاحُ
يَاعَلِيْمُ يَاقَابِضُ
يَابَاسِطُ يَاخَافِضُ
يَارَافِعُ يَامُعِزُّ
يَامُـذِلُّ يَاسَمِـيْعُ
يَابَصِيْرُ يَاحَكَمُ
يَاعَـدْلُ يَالَطِيْفُ
يَاخَبِيْرُ يَاحَلِيْمُ
يَاعَـظِيْمُ يَاغَفُوْرُ
يَاشَكُوْرُ يَاعَلِيُّ
يَاكَـبِيْرُ يَاحَفِيْظُ
يَامُقِيْتُ يَاحَسِيْبُ
يَاجَـلِيْلُ يَاكَرِيْمُ
يَارَقِيْبُ يَامُجِيْبُ
يَاوَاسِعُ يَاحَكِيْمُ
يَاوَدُوْدُ يَامَجِيْدُ
يَاقَـوِيُّ يَامَتِـيْنُ
يَاوَلِيُّ يَاحَمِيْدُ
يَامُحْصِيْ يَامَبْدَأُ
يَامُعِيْدُ يَامُحْيِ
يَامُـمِيْتُ يَاحَيُّ
يَاقَيُّوْمُ يَاوَاحِدُ
يَامَاجِدُ يَاوَاحِدُ
يَاأَحَـدُ يَاصَمَدُ
يَاقَادِرُ يَامُـقْتَدِرُ
يَامُقَدِّمُ يَامُؤَخِّرُ
يَـاأَوَّلُ يَـاأَخِـرُ
يَاظَاهِرُ يَابَاطِنُ
يَـاوَالِيُّ مُتَعَالِيْ
يَابَـرُّ يَاتَوَّابُ
يَامُنْـتَقِمُ يَاعَـفْوُ
يَارَؤُوْفُ يَامَالِكُ
مَـالِـكَ الْمُـلْكِ
ذَالْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ
يَامُقْسِطُ يَاجَامِعُ
يَاغَنِيُّ يَامُغْنِيَّ
يَامَـانِعُ يَاضَارُّ
يَانَـافِعُ يَانُـوْرُ
يَاهَدِيْ يَا بَدِيْعُ
يَابَاقِيْ يَاوَارِثُ
يَارَشِيْدُ يَاصَبُوْرُ
عَزَّ جَلَّ ذِكْرُهُ
الدعاء
بِأَسْمَائِكَ الْحُسْنَى
إِغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا
وَلِوَالِدِيْنَا
وَذُرِّيَّاتِنَا
كَفِّرْ عَنَّا سَيِّأَتِنَا
وَاسْتُرْ عَلَى عُيُوْبِنَا
وَاجْبُرْ عَلَى نُقْصَانِنَا
وَارْفَعْ دَرَجَاتِنَا
وَزِدْنَا عِلْمًا نَافِعًا
وَرِزْقًا وَاسِعًا
حَلاَلاً طَيِّبًا
وَعَمَلاً صَالِحًا
وَنَوِّرْ قُلُوْبَنَا
وَيَسِّرْ أُمُوْرَنَا
وَصَحِّحْ أَجْسَادَنَا
دَائِمَ حَيَاتِنَا
إِلَى الْخَيْرِ قَرِّبْنَا
عَنِ الشَّرِّ بَاعِدْنَا
وَالْقُرْبَا رَجَاؤُنَا
أَخِيْرًا نِلْنَا الْمُنَى
بَلِّغْ مَقَاصِدَنَا
وَاقْضِ حَوَائِجَنَا
وَالْحَمْدُ لِإِلَهَنَا
اَلَّذِيْ هَدَانَا
صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى
طَهَ خَلِيْلِ الرَّحْمَنِ
وَأَلِهِ وَصَحْبِهِ
إِلَى أَخِرِ الزَّمَانِ