VIDEO

VIDEO

Tujuan Pendidikan Nahdliyyah (أهداف التربية النهضية)

Siapakah Ahlussunnah wal Jama'ah (Aswaja) yang Dimaksud?

​Teks Asli Arab:

​فأهل السنة المعترف بهم عالميا هم الشريحة العظيمة من المسلمين ما عدا الشيعة.

فتشمل الوهابيين والحداثيين والحزبيين، كما يشمل بالطريقة الأولى التقليديين.

ولكن المراد هنا بالذات المنصرف إليهم عند الإطلاق هم التقليديون.

ويعرفون بأنهم الذين يتبعون في الفقه بأحد المذاهب الأربعة، ويتقيدون في العقيدة بمذهب الإمام الأشعري أو الإمام الماتريدي، ويتمنهجون في التصوف بمذهب الإمام أبي القاسم الجنيدي والإمام أبي حامد الغزالي.

  

​Pendekatan Santri Konvensional (Salaf):

​Makna/Penjelasan: Secara definisi umum (umum al-lafz), Ahlussunnah wal Jama'ah di tingkat global mencakup mayoritas umat Islam di luar kelompok Syi'ah (termasuk kelompok Wahabi, Modernis, maupun Partisan). Namun, Aswaja yang dimaksud secara khusus (ithlaq) dalam perbincangan ini adalah Golongan Tradisionalis (Santri Salaf), yaitu kaum yang memegang teguh trilogi ajaran Islam:  

​Fiqih: Bertaklid (itba') pada salah satu dari Madzhab Empat (Hanafi, Maliki, Syafi'i, Hanbali).  

​Akidah: Berpegang teguh pada manhaj teologi Imam Abu Hasan Al-Asy'ari atau Imam Abu Mansur Al-Maturidi.  

​Tasawuf: Memakai thariqah kebersihan hati menurut garis pimpinan Imam Abul Qasim Al-Junaid al-Baghdadi dan Hujjatul Islam Imam Abu Hamid Al-Ghazali.  

​Pendekatan Santri Modern (Khalaf):

​Makna/Penjelasan: Pembatasan identitas Aswaja dalam kerangka pendidikan kebangkitan (Nahdliyyah) menekankan pada paham Tradisionalis Berkemajuan. Fokusnya adalah keterikatan metodologis yang utuh (pilar keilmuan holistik):  

​Bidang Hukum (Fiqih): Yurisprudensi terstruktur melalui empat mazhab utama.  

​Bidang Teologi (Akidah): Moderasi paham Asy'ariyyah-Maturidiyyah.  

​Bidang Etika dan Spiritual (Tasawuf): Mengintegrasikan sufisme transformatif berbasis pemikiran Al-Junaid dan Al-Ghazali.  

​2. Urgensi Menentukan Tujuan Pendidikan Pesantren (أهمية تحديد أهداف التربية المعهدية)

​Teks Asli Arab:

​يعني بها: الأغراض أو الغايات التي تسعى العملية التربوية إلى تحقيقها، بعيدة كانت أم قريبة.

ولها تأثير في:

​تكييف وتحديد مجال الدراسة

​تكييف وتحديد طرق الدراسة ووسائلها وأساليبها

​تحريك السلوك وتوجيهه

ولها دورها في خلق الجو الفرحي والبهجي عند عملية التحقيق لتلك الأهداف، كما أن لها دورها في تجنب اللهو والأمور التافهة التي ينشغل بها من ليست لهم الأهداف السامية.

  

​Pendekatan Santri Konvensional (Salaf):

​Makna/Penjelasan: Tujuan pendidikan pesantren adalah ghayah (cita-cita tertinggi) yang ingin dicapai melalui proses ta'lim dan tarbiyah, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Penetapan tujuan ini berfungsi untuk:  

​Menentukan batasan fan keilmuan yang dikaji.  

​Menata metode mengaji (thariqah), media/sarana (wasa'il), dan tata cara pembelajaran.  

​Mendorong ketulusan niat dan menjaga suluk (perilaku/adab) santri.

Selain itu, tujuan yang jelas akan memunculkan rasa kegembiraan (farah) dalam menuntut ilmu serta menjaga santri dari perbuatan sia-sia (lahw).  

​Pendekatan Santri Modern (Khalaf):

​Makna/Penjelasan: Formulasi Educational Objectives (Tujuan Pendidikan) memberikan arah strategis terhadap seluruh kegiatan operasional lembaga. Dampak utamanya:  

​Orientasi dan pemetaan kurikulum.  

​Pemilihan metodologi, media, dan teknik pembelajaran.  

​Pengarahan tingkah laku dan pembentukan karakter.

Hal ini menciptakan iklim belajar yang kondusif, berkesan, serta menghindarkan institusi dari aktivitas non-produktif.  

​3. Sumber-Sumber Tujuan Pendidikan (مصادر الأهداف)

​Teks Asli Arab:

​الوحي الإلهي: كتاب الله - سنته

​المعتقد: أهل السنة والجماعة

​المجتمع: احتياجاته - متطلباته - ظروفه - أحواله المتغيرة

​الفرد: طبيعته - ميوله - رغباته - مواهبه

  

​Pendekatan Santri Konvensional (Salaf):

​Pijakan Dasar:

​Wahyu Ilahi: Al-Qur'an dan Sunnah Nabi SAW sebagai landasan utama.  

​Aqidah: Nilai-nilai teologi Ahlussunnah wal Jama'ah.  

​Masyarakat: Menjawab hajat (hajiyat) serta kondisi umat yang selalu berubah.  

​Individu Santri: Memperhatikan fitrah, kecenderungan hati, kehendak, dan bakat tiap santri.  

​Pendekatan Santri Modern (Khalaf):

​Pijakan Dasar:

​Wahyu Transendental: Al-Qur'an dan Hadis.  

​Ideologi/Teologi: Haluan pilar Aswaja.  

​Dimensi Sosiologis: Kebutuhan, tuntutan, dan dinamika perubahan sosial.  

​Dimensi Psikologis: Pembinaan potensi individual, minat, bakat, dan diferensiasi peserta didik.  

​4. Tujuan Pendidikan Kita (أهداف تربيتنا)

​Teks Asli Arab:

​تحقيق معنى العبودية (وماخلقت الجن والإنسان إلا ليعبدون - الذاريات : 56). والعبودية هي اسم جامع لكل ما يحبه الله ويرضاه - لا مجرد أداء المناسك والعبادات المعينة مثل الصلاة والزكاة والصوم والحج.

​التنشئة العقدية الصحيحة (أهل السنة والجماعة).

​التخلق بالأخلاق الحميدة (وإنك لعلى خلق عظيم - القلم : 4)؛ (إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق - الحديث الشريف).

​تنمية الشعور الجماعي الديني السني والوطني.

​تكوين الفرد المتزن نفسيا وعاطفيا.

​صقل مواهب الطلاب ورعايتها.

​تكوين الفرد الصحيح جسميا وبدنيا.

  

​Pendekatan Santri Konvensional (Salaf):

​Mewujudkan Hakikat 'Ubudiyyah: Menghamba penuh kepada Allah SWT, tidak sebatas ritual ibadah (mahdhah) seperti shalat, zakat, puasa, dan haji saja, melainkan mencakup seluruh amal perbuatan yang dicintai dan diridhai-Nya.  

​Penanaman Akidah Shahihah: Menanamkan iktiqad lurus Ahlussunnah wal Jama'ah.  

​Pembersihan Jiwa & Berakhlak Mulia: Membentuk akhlakul karimah meneladani budi pekerti Nabi SAW.  

​Membentuk Jiwa Jama'ah & Kebangsaan: Menguatkan rasa kebersamaan agama yang berhaluan Sunni dan semangat cinta tanah air (hubbul wathan).  

​Keseimbangan Jiwa: Membentuk pribadi yang tenang, bijak, dan seimbang.  

​Mengasah Potensi Santri: Membina keahlian dan bakat santri.  

​Kesehatan Jasmani: Menjaga fisik yang sehat dan kuat untuk beribadah dan menuntut ilmu.  

​Pendekatan Santri Modern (Khalaf):

​Internalisasi Nilai Transendensi (Servitude to God): Kesadaran ibadah secara komprehensif.  

​Doktrinasi Teologis Aswaja: Pembentukan worldview keislaman yang teruji.  

​Pengembangan Karakter/Moral (Character Building): Mengacu pada standar moralitas kenabian.  

​Integrasi Kesadaran Kolektif & Nasionalisme: Menumbuhkan solidaritas sosio-religius dan wawasan kebangsaan.  

​Kesehatan Mental & Kematangan Emosional: Pembentukan kecerdasan emosional (EQ).  

​Pengembangan Bakat & Minat (Talent Development): Pembinaan potensi peserta didik.  

​Kesehatan Fisik/Jasmani: Kebugaran fisik sebagai pendorong produktivitas.  

​5. Definisi Pendidikan Islam (تعريف التربية الإسلامية)

​Teks Asli Arab:

​تربية الإنسان المسلم من جميع الجوانب الناحية العقلية، والجسمية والخلقية، والاجتماعية، والاقتصادية، والثقافية حسب قدراته وإمكاناته لنصل به إلى الكمال الإنساني مطبقاً لتعاليم الدين الإسلامي، ومتكيفاً مع بيئته الاجتماعية.

  

​Pendekatan Santri Konvensional (Salaf):

Pendidikan Islam adalah usaha mendidik manusia muslim secara menyeluruh—mencakup aspek akal ('aql), jasad (jism), akhlak (khuluq), muamalah sosial, ekonomi, dan kebudayaan—sesuai kemampuan masing-masing, guna mengantarkannya mencapai derajat Insan Kamil (manusia sempurna) yang mengamalkan syariat Islam serta dapat bergaul (mu'asyarah) dengan baik di masyarakat.  

​Pendekatan Santri Modern (Khalaf):

Pendidikan Islam merupakan pengembangan potensi manusia secara holistik dan komprehensif (meliputi ranah kognitif, afektif, psikomotorik, sosial, ekonomi, dan kultural) sesuai dengan kapabilitas peserta didik. Tujuannya adalah mengaktualisasikan Insan Kamil yang mampu mengimplementasikan ajaran Islam serta memiliki daya adaptasi tinggi terhadap lingkungan sosialnya.

Ditulis oleh K.H Ghofur Maemun Zubeir Sarang

Empat Musuh Terbesar Manusia


 

Dalam perjalanan spiritual manusia, ujian dan rintangan tidak hanya datang dari luar, tetapi juga bersembunyi di dalam diri kita sendiri. Para ulama sufi sering mengingatkan bahwa manusia selalu berada di medan pertempuran melawan empat musuh utama. Mengenali dan memahami cara kerja mereka adalah langkah pertama untuk meraih kedamaian jiwa yang sejati untuk menuju sang Ilahi.

Berikut adalah keempat musuh tersebut:

  • Dunia (Gemerlap Materi): Dunia sering kali menipu dengan keindahannya yang fana dan sementara. Harta, tahta, dan popularitas bisa membuat manusia buta akan tujuan akhir kehidupannya. Senjata utama dunia adalah menciptakan ilusi bahwa hidup dan kesenangan ini akan berlangsung selamanya. Cara melawannya: Mempraktikkan sikap zuhud—yakni boleh menggenggam dunia di tangan, namun tidak membiarkannya masuk dan menguasai hati.
  • Syaitan (Sang Penggoda): Ini adalah musuh eksternal yang telah bersumpah untuk menyesatkan manusia dari jalan kebenaran. Syaitan sering kali tidak datang dengan kejahatan yang terang-terangan; ia bekerja secara halus dengan membisikkan keraguan, memperindah kemaksiatan agar terlihat wajar, atau menakut-nakuti manusia dengan kemiskinan saat hendak berbuat baik. Cara melawannya: Memperkuat iman, memperbanyak zikir, dan selalu memohon perlindungan kepada Allah SWT.
  • Hawa (Kesenangan yang Melalaikan): Hawa merujuk pada kecenderungan hati terhadap kesenangan-kesenangan dangkal. Hawa membuat manusia mengabaikan logika dan tanggung jawab demi menuruti rasa malas, gaya hidup konsumtif, atau membuang-buang waktu untuk hal yang tidak bermanfaat. Cara melawannya: Menanamkan disiplin diri yang kuat dan memandu hati dengan akal sehat serta ilmu.
  • Nafsu (Ego di Dalam Diri): Nafsu sering dianggap sebagai musuh yang paling berbahaya karena ia bersemayam di dalam diri kita sendiri (nafsu ammarah bis-su' atau jiwa yang memerintahkan pada keburukan). Nafsu adalah sumber dari kesombongan, amarah, iri hati, dan keserakahan yang merusak hubungan dengan sesama manusia dan Tuhan. Cara melawannya: Melakukan introspeksi diri secara rutin dan mengendalikan dorongan fisik melalui latihan spiritual, seperti berpuasa.

Keempat musuh ini tidak bekerja sendiri-sendiri, melainkan saling berkaitan. Syaitan sering menggunakan gemerlap Dunia untuk memancing Hawa, yang pada akhirnya membangkitkan Nafsu buruk di dalam diri manusia. Namun, dengan kesadaran dan tekad yang kuat, manusia dibekali akal untuk bisa menundukkan mereka semua. Dan ingatlah, Ketika manusia bisa menundukan hawa nafsu tersebut manusia akan lebih mulia derajatnya daripada malaikat. Tapi jika manusia disetir dan digerakan oleh hawa nafsu maka manusia derajatnya akan lebih rendah daripada binatang.

Salam Ziarah Kubur Para Waliyullah

 



Do’a Naik Kendaraan

سُبْحَانَ الَّذِى سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِى سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِى السَّفَرِ وَالْخَلِيفَةُ فِى الأَهْلِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِى الْمَالِ وَالأَهْلِ

Subhaanalladzii sakhhorolana hadzaa wamaa kunnaa lahu muqriniina wa innaa ilaa rabbina lamunqolibuuna. Allahumma innaa nasaluka fii safarina hadzal birro wattaqwaa waminal 'amali maa tardho. Allahumma hawwin 'alaina safarana hadzaa wathwi'anna bu'dahu. Allahumma antash shoohibu fissafari wal khalifatu filahli. Allahumma innii a'uudzubika min wa'tsaais safari wakaabatil mandhori wasuuuil munqolabi filmaali wal ahli

Salam Waliyullah

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ يَا وَلِيَ اللهِ ……صَاحِبَ اْلكَرَامَةِ. جِئْنَاكَ زَائِرِيْنَ وَ عَلَى مَقَامِكَ وَاقِفِيْنَ. أَوْدَعْنَا عِنْدَكَ شَهَادَةَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, لِلَّهِ تَعَالَى. اَلْفَاتِحَة

" ASSALAMU'ALAIKA YAA WALIYAALLAH....................(Sebutkan ahli makam yang kita tuju) SHOHIBUL KAROMAH . JIKNAKA ZAAIRIN, WA'ALA MAQOMIKA WAAKIFIIN. 'AU DA'NA INDAKA SYAHADATA 'ALA ILLAHAILLALLAH WA ANA MUHAMMADAROSULULLOH"

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

عَلَيْكُمْ يَا وَلِيَّ اللهْ

      وَقَفْنَا يَا وَلِيَّ اللهْ

    قَصَدْنَا يَا وَلِيَّ اللهْ

أَجِيْبُوْا يَا وَلِيَّ اللهْ

لِتَدْ عُوا يَا وَلِيَّ اللهْ

     لَدَيْنَا يَا وَلِيَّ اللهْ

حَلاَ لاً يَا وَلِيَّ اللهْ

مِرَارًا يَا وَلِيَّ اللهْ

كِرَامًا يَا وَلِيَّ اللهْ

بِقُرْبٍ يَا وَلِيَّ اللهْ

مُحَمَّدْ يَا وَلِيَّ اللهْ

وَشُكْرًا يَا وَلِيَّ اللهْ

*

*

*

*

*

*

*

*

*

*

*

*

 

سَلاَمُ اللهِ وَالرَّحْمَةْ

أَتَيْنَاكُمْ وَزُرْنَاكُمْ  

سَعِدْنَا إِذْ لَقِيْنَكُمْ

تَوَسَلْنَا بِكُمْ ِللهِ

رَجَوْنَا مِنْ مَزَايَاكُمْ 

إِلىَ الرَّحْمٰنِ مَا يُرَ

طَلَبْنَا وُسْعَةَ اْلأَرْزَاقْ 

وَحَجَّ اْلبَيْتِ فِى الْحَرَامْ 

وَحُسْنًا فِى اخْتِتَا مِنَا 

عَسٰى نُرْضٰى عَسٰى نُحْظٰى 

وَصَلَّى سَلَمَّ عَلىٰ 

وَحَمْدًا لِلْمُهَيْمِنِ 


Salamullahi Warohmah                          ‘Alaikum ya waliyalloh

Atainakum Wazurnakum                        Waqafnaya waliyalloh

Sa’idna idzlakinakum                              Qosodna ya waliyalloh

Tawasalna bikum lillah                            Ajibu ya waliyalloh

Rojaunamim mazayakum                        Litad’u ya waliyalloh

Ilarrohmani mayuram                               Ladaina ya waliyalloh

Tolabna wus atal arzaq                           Halalan ya waliyalloh

Wahajjal baiti fil harom                            Miroron ya waliyalloh

Wahusna fikhtitamina                              Kiraman ya waliyalloh

Asa nurdho asa nuhdho                          Bikurbin ya waliyalloh

Washolla salaman ‘ala                            Muhammad ya waliyalloh

Wahamdan lilmuhaimini                          Wasyukron ya waliyalloh


Do’a Tawasul

  يَا سَيِّدِيْ يَا رَسُوْلَ اللهِ ، وَ يَا سَيِّدِيْ اَبَا بَكْرٍ وَّ عُمَرَ وَ عُثْمَانَ وَ عَلِيًّا وَ يَا سَيِّدِيْ اَلشَّيْخَ عَبْدَ الْقَادِرِ اَلْجَيْلاَنِيْ، اِنِّيْ اَتَوَسَّلُ بِكُمْ اِلَى اللهِ تَعَالَى فِيْ قَضَاءِ حَاجَتِيْ وَ يَا وَلِيَّ اللهِ اَلْعَارِفَ بِاللهِ اَلشَّيْخَ............ صَاحِبَ هٰذِهِ الْمَقْبَرَةِ اِنِّيْ أَتَوَسَّلُ بِكُمْ اِلَى اللهِ تَعَالَى فِيْ قَضَاءِ حَاجَتِيْ هٰذِهِ…..

yaa sayyidii yaa rasuulallooh,wa yaa sayyidii abaa bakrin, wa ‘umar wa ‘utsmaana wa’aliyyan, wa yaa sayyidii as-syekh abdal qoodir al-jailanii. innii atawassalu bikum ilalloohi ta’aala fii qodhoo’i haajatii, wa yaa waliyyallooh, al-‘aarif billaah as-syekh.... (sebut nama waliyullohnya) .... shoohiba haadzihil maqbaroh, innii atawassalu bikum ilalloohi ta’aalaa fii qodhoo’i haajatii haadzihi..... 

ياسادتى3

X من أمكم لرغبة فيكم جبر # ومن تكونوا ناصريه ينتصر ٣

Ya sadati 3x man ammakum lirughbatin fikum jubir # waman takunu nashirihi yantasir) 3x

MACAM-MACAM NAFSU



Syekh Muhammad Nawawi Al-Jawi membagi nafsu dalam 7 tingkatan yang dikenal dengan istilah “marotibun- nafsi”. Tempat-tempat dimana nafsu ini bersemayam dalam dunia sufi biasa dinamakan sebagai “lathifah”, yaitu sebuah titik halus dalam diri kita yang keberadaannya tersebar.
Berikut penjelasan beliau tentang nafsu, tempat dan tentara-tentaranya:

(1) Nafsu Ammaaroh
Nafsu ammaroh tempatnya adalah “ash-shodru” artinya dada. Adapun pasukan-pasukannya sebagai berikut :
1. Al-Bukhlu artinya kikir atau pelit
2. Al-Hirsh artinya tamak atau rakus
3. Al-Hasad artinya hasud
4. Al-Jahl artinya bodoh
5. Al-Kibr artinya sombong
6. Asy-Syahwat artinya keinginan duniawi

(2) Nafsu Lawwamah
Nafsu lawwamah tempatnya adalah “al-qolbu” artinya hati, tepatnya dua jari di bawah susu kiri. Adapun pasukan-pasukannya sebagai berikut :
1. Al-Laum artinya mencela
2. Al-Hawa artinya bersenang-senang
3. Al-Makr artinya menipu
4. Al-’Ujb artinya bangga diri
5. Al-Ghibah artinya mengumpat
6. Ar-Riya’ artinya pamer amal
7. Az-Zhulm artinya zalim
8. Al-Kidzb artinya dusta
9. Al-ghoflah artinya lupa

(3) Nafsu Mulhimah
Nafsu mulhimah tempatnya adalah “Ar-ruh” tepatnya dua jari di bawah susu kanan. Adapun pasukan-pasukannya sebagai berikut :
1. As-Sakhowah artinya murah hati
2. Al-Qona’ah artinya merasa cukup
3. Al-Hilm artinya murah hati
4. At-Tawadhu’ artinya rendah hati
5. At-Taubat artinya taubat atau kembali kepada Alloh
6. As-Shobr artinya sabar
7. At-Tahammul artinya bertanggung jawab

(4) Nafsu Muthmainnah
Nafsu muthmainnah tempatnya adalah “As-Sirr” artinya rahasia, tepatnya dua jari dari samping susu kiri kea rah dada. Adapun pasukan-pasukannya sebagai berikut :
1. Al-Juud artinya dermawan
2. At-Tawakkul artinya berserah diri
3. Al-Ibadah artinya ibadah
4. Asy-Syukr artinya syukur atau berterima kasih
5. Ar-Ridho artinya rido
6. Al-Khosyah artinya takut akan melanggar larangan

(5) Nafsu Rodhiyah
Nafsu rhodiyah tempatnya adalah “Sirr Assirr” artinya sangat rahasia, tepatnya di jantung yang berfungsi menggerakkan seluruh tubuh. Adapun pasukan-pasukannya sebagai berikut :
1. Al-Karom artinya
2. Az-Zuhd artinya zuhud atau meninggalkan keduniawian
3. Al-Ikhlas artinya ikhlas atau tanpa pamrih
4. Al-Waro’ artinya meninggalkan syubhat
5. Ar-Riyadhoh artinya latihan diri
6. Al-Wafa’ artinya tepat janji

(6) Nafsu Mardhiyah
Nafsu mardhiyah tempatnya adalah “Al-khofiy” artinya samar, tepatnya dua jari dari samping susu kanan ke tengah dada. Adapun pasukan-pasukannya sebagai berikut :
1. Husnul Khuluq artinya baik akhlak
2. Tarku maa siwalloh artinya meninggalkan selain Alloh
3. Al-Luthfu bil kholqi artinya lembut kepada makhluk
4. Hamluhum ‘ala sholah artinya mengurus makhluk pada kebaikan
5. Shofhu ‘an dzunubihim artinya mema’afkan kesalahan makhluk
6. Al-Mail ilaihim liikhrojihim min dzulumati thoba’ihim wa anfusihim ila anwari arwahihim artinya mencintai makhluk dan cenderung perhatian kepada mereka guna mengeluarkannya dari kegelapan (keburukan) watak dan jiwa-jiwanya ke arah bercahayanya ruh-ruh mereka.

(7) Nafsu Kamilah
Nafsu kamilah tempatnya adalah “Al-Akhfa” artinya sangat samar, tepatnya di tengah-tengah dada. Adapun pasukan-pasukannya sebagai berikut :
1. Ilmul-yaqiin
2. Ainul-yaqiin
3. Haqqul-yaqiin


Dan tidak ada jalan yang terbaik untuk membersihkan segenap nafsu ini selain dzikr. Oleh karena itu, para ulama thoriqoh mengajarkan metode dzikir terutama dzikir nafi itsbat (laa ilaaha illalloh) yang tekniknya mengatur aliran dzikir ke seluruh lathifah-lathifah.

Niat Shalat Jama' Qashar





NIAT QASHAR DAN JAMA’ TA’KHIR

1. نَوَيْتُ تَأْخِيْرَ الظُّهْرِ إِلَى الْعَصْرِ
Aku niat mengakhirkan shalat dhuhur ke dalam waktu ashar
2. نَوَيْتُ تَأْخِيْرَ الْمَغْرِبِ إِلَى الْعِشَاءِ
Aku niat mengakhirkan shalat magrib ke dalam waktu ashar
3. أُصَلِّي فَرْضَ الظُّهْرِ رَكْعَتَيْنِ مُؤَخَّرًا قَصْرًا لِلهِ تَعَالَى
Aku niat shalat fardlu dhuhur 2 raka’at yang diakhirkan yang dikurangi, karena Allah yang maha luhur
4. أُصَلِّى فَرْضَ الْعَصْرِ رَكْعَتَيْنِ قَصْرًا لِلهِ تَعَالَى
Aku niat shalat fardlu ashar 2 raka’at karena Allah yang maha luhur
5. أُصَلِّى فَرْضَ الْمَغْرِبِ ثَلاَثَ رَكَعَاتٍ مُؤَخَّرًا لِلهِ تَعَالَى
Aku niat shalat fardlu magrib 3 raka’at yang diakhirkan  karena Allah yang maha luhur
6. أُصَلِّى فَرْضَ الْعِشَاءِ رَكْعَتَيْنِ قَصْرًا لِلهِ تَعَالَى
Aku niat shalat fardlu ‘isya 2 raka’at yang dikurangi karena Allah
NIAT QASHAR DAN JAMA’ TAQDIM
1. أُصَلِّى فَرْضَ الظُّهْرِ رَكْعَتَيْنِ مَجْمُوْعًا مَعَ الْعَصْرِ قَصْرًا لِلهِ تَعَالَى
Aku niat shalat fardlu dhuhur 2 raka’at yang digabung dengan shalat ashar yang dikurangi, karena Allah yang maha luhur
2. أُصَلِّى فَرْضَ الْعَصْرِ رَكْعَتَيْنِ مُقَدَّمًا قَصْرًا لِلهِ تَعَالَى              
Aku niat shalat fardlu ashar 2 rakaat yang dimajukan yang dikurangi karena Allah
3. أُصَلِّى فَرْضَ الْمَغْرِبِ ثَلاَثَ رَكَعَاتٍ مَجْمُوْعًا مَعَ الْعِشَاءِ لِلهِ تَعَالَى
Aku niat shalat fardlu magrib 3 raka’at yang digabung dengan shalat isya’ yang dikurangi, karena Allah yang maha luhur
4. أُصَلِّى فَرْضَ الْعِشَاءِ رَكْعَتَيْنِ مُقَدَّمًا قَصْرًا لِلهِ تَعَالَى
Aku niat shalat fardlu isya’  2 rakaat yang dimajukan yang dikurangi karena Allah